Categories
Budidaya Umum

Klasifikasi Durian

Buah durian sudah dikenal di Asia Tenggara sejak abad ke-7 M. Tanaman durian berasal dari hutan Malaysia, Sumatera, dan Kalimantan yang berupa tanaman liar. Kemudian, tanaman ini mulai menyebar ke rah Barat, yaitu ke Thailand, Birma, India, dan Pakistan. Buah ini memiliki nama latin Durio zibethinus yang berasal dari kata duri dan zhibet atau civet yang berarti musang, karena memang durian dianggap memiliki bau yang menyerupai musang.

Jenis tanaman durian diperkirakan mencapai 30 jenis. Dari 30 jenis tersebut, hanya Durio zibethinus yang ditanam untuk dikonsumsi sebagai buah-buahan. Tanaman durian merupakan jenis pohon hutan basah yang memiliki tinggi mencapai 30-40 m dan garis tengah 2-2,5 m. Walaupun umumnya tidak dikenal di negara barat, durian adalah sebuah komoditas berharga di Asia Tenggara yang memberikan pengaruh pada kultur dan sejarah dunia. Durian merupakan jenis buah yang cukup lama ada di dunia. Di Malaysia, nilai ekspor durian tercatat di atas 40%. Sementara di Indonesia, panen beras pernah gagal hanya karena waktu tanamnya bersamaan dengan panen durian.

Oleh karena durian merupakan buah asli nusantara, sehingga keragaman genetik buah durian di Indonesia sangat besar. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai negara yang memiliki potensi durian unggul paling tinggi di dunia. Hingga tahun 2009 telah ditetapkan sebanyak 71 buah durian dengan varietas unggul. Jumlah ini terbilang sangat tinggi, jika dibandingkan dengan Thailand yang hanya memiliki 4 varietas unggul, yaitu monthong, kra dum thong, chanee, dan puang manee.

Jenis Jenis Durian

Asal-usul Durian

Durian merupakan buah asli Indonesia, dengan pusat keanearagaman varietas di Pulau Kalimantan. Kata durian diambil dari bentuk kulit buahnya yang berduri. Pada awalnya, durian merupakan tanaman liar di hutan. Namun, karena rasa buah ini cukup banyak digemari oleh masyarakat, sehingga tanaman durian berkembang menjadi tanaman pekarangan dan tanaman sela di tegalan. Seiring dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan konsmen, saat ini duriaan mulai dikebunkan dan menjadi tanaman budidaya. Di Thailand durian berkembang pesat menjadi tanaman budidaya komersial. Hal ini disebabkan karena durian memiliki pangsa pasar yang cukup luas. Bahkan Thailand adalah negara yang paling dikenal sebagai pengekspor durian. Negara ini telah berhasil mengembangkan kultivar durian bermutu tinggi dengan sistem budi daya yang baik. Selain Thailand, beberapa negara pengekspor durian antara lain adalah Mindanao (Filipina), Queensland (Australia), Kamboja, Laos, Vietnam, India, dan Sri Lanka.

Di Indonesia, durian mulai dikembangkan secara intensif menjadi tanaman budidaya. Pangsa pasar yang cukup luas dan nilai ekonomis yang tinggi menjadikan tanaman ini sebagai pilihan komoditas bagi para petani. Persepsi masyarakat yang cukup tinggi terhadap buah durian menjadikan harga buah ini terbilang cukup mahal dan menjadi buah yang cukup mewah. Perdagangan durian di pasar modern selama ini masih dipenuhi oleh durian monthong dari Thailand. Hal ini disebabkan oleh mutu buah yang lebih sesuai dengan selera pembeli, konsistensi mutu, dan sistem pasokan yang lebih baik.

 

Sentra Penanaman Durian di Indonesia

Indonesia memiliki wilayah andalan sentra produksi durian. Wilayah tersebut adalah Nangroe Aceh Darusalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan.

Upaya peningkatan produksi durian di dalam negeri sebenarnya masih bisa dilakukan melalui perbaikan sistem produksi sehingga jumlah pasokan durian dengan mutu baik dapat ditingkatkan. Indonesia memiliki potensi produsen durian yang bagus mengingat varietas durian dan agroklimat yang beragam sehingga durian dapat dihasilkan sepanjang tahun.

 

Standar Mutu Buah Durian

Dengan diberlakukannya pasar global, persaingan di pasar buah makin ketat. Oleh karenanya, pembudidaya durian perlu meningkatkan mutu buah sehingga memiliki daya saing di pasar. Peningkatan mutu huah juga akan memberikan keuntungan yang berkelanjutan karena produksi dilakukan secara efisien. Buah durian yang bermutu tinggi akan diterima dengan baik oleh pasar dan konsumen sehingga akan layak mendapatkan harga jual yang tinggi.

Mutu merupakan gabungan dari sifat-sifat yang memberikan nilai pada durian. Mutu tidak hanya diperuntukkan pada produk, tetapi termasuk juga pelayanan, seperti kesesuaian isi kemasan dengan label dan ketepatan waktu pengiriman. Mutu merupakan suatu konsep dinamis yang mampu memuaskan konsumen, terdiri dari unsur spesifik mengenai penampilan tertentu suatu produk sesuai dengan persepsi konsumen.

Setiap pasar memiliki tuntutan terhadap mutu buah durian yang berbeda-beda. Hal ini akan berpengaruh terhadap pembentukan standar mutu durian yang diproduksi. Oleh karenanya, terdapat standar mutu minimal durian yang semestinya dipenuhi oleh setiap pembudidaya durian. Standar mutu tersebut sebagai berikut :

  • Ukuran buah sedang dengan bobot 1,6-2,5 kg/buah.
  • Daging buah berwarna kuning muda hingga kuning tua/tembaga.
  • Rasa daging buah manis legit/manis legit sedikit pahit.
  • Tekstur daging buah pulen (lembut dan kering).
  • Porsi edibel/jumlah daging minimal 30% dengan ketebalan daging buah minimal 10 mm.
  • Biji kempes/kecil dengan berat maksimal 15 g/biji.
  • Buah bisa dipetik di pohon (± 5 hari sebelum jatuh) (rasa = durian jatuh).
  • Buah tahan disimpan minimal 7 hari setelah jatuh.

Dengan masuknya durian impor, terbentuk konsumen baru yang menuntut kriteria lain pada standar mutu durian. Standar mutu yang diinginkan untuk durian impor adalah daging buah tebal, biji kempes, daging buah tidak lengket di tangan, aroma yang tidak kuat,warna daging buah yang lebih merah, dan buah dapat diperam tanpa mengurangi kualitas (durian buah klimakterik). Tuntutan konsumen baru tersebut cenderung dipenuhi oleh durian monthong sehingga upaya pemuliaan buah durian di Indonesia perlu ditingkatkan lagi.

ASEAN dan Indonesia juga memiliki standar mutu buah durian yang sedikit berbeda. Standar mutu tersebut sebagai berikut:

  • Penampilan luar tampak segar, bebas dari kotoran dan benda asing, serta tidak ada bagian yang busuk.
  • Bebas dari kerusakan yang tampak walaupun tidak berpengaruh pada isi buah.
  • Bebas dari serangan hama dan penyakit serta kerusakan yang mempengaruhi penampilan buah.
  • Bebas dari kerusakan yang disebabkan oleh suhu yang terlalu rendah atau terlalu tinggi.
  • Bebas dari bau dan rasa selain durian.
  • Pada saat matang, tidak boleh ada bagian daging buah yang mengeras, ujungnya menghitam, serta bebas dari daging berair (water core). Apabila hal tersebut terjadi, kerusakan tidak boleh lebih dari 5% dari daging buahnya.

Klasifikasi ilmiah buah durian

  • Kingdom : Plantae – Plants
  • Subkingdom : Tracheobionta – Vascular plants
  • Superdivision : Sperrnatophyta – Seed plants
  • Division (phylum) : Magnoliophyta – Flowering plants
  • Kelas : Magnoliopsida – Dicotyledons
  • Subkelas : Dilleniidae
  • Order : Malvales
  • Keluarga : Bombacaceae – Kapok-tree family
  • Genus : Durio Adanson – durio
  • Spesies : Durio zibethinus Murray – durian
Categories
Pendidikan Umum

Jenis-Jenis Kopi

Kopi merupakan komoditas yang sering dimanfaatkan sebagai minuman penghangat atau penambah stamina. Sebagai komoditas rakyat yang sudah cukup lama dibudidayakan, kopi mampu menjadi menjadi sumber nafkah bagi petani kopi Indonesia. Selain itu, kopi juga memegang peranan penting sebagai sumber devisa negara. Hal ini tidak terlepas dari peranan kopi sebagai komoditas andalan ekspor bagi Indonesia. Akan tetapi komoditas ini sering sekali mengalami fluktuasi harga sebagai akibat dari ketidak seimbangan antara permintaan dan penawaran kopi dunia.

Keberhasilan agribisnis kopi sangat membutuhkan dukungan dan peran aktif semua pihak, baik pemerintah maupun swasta sebagai pelaku agribisnis. Peran para pelaku agribisnis kopi sangat menentukan kualitas dan kuantitas kopi, mulai dari proses produksi, pengolahan, hingga pemasaran. Dengan begitu, komoditas kopi Indonesia memiliki daya saing yang tinggi di pasaran Internasional.

Beberapa komponen teknologi yang mampu mendukung perkembangan agribisnis kopi diantaranya adalah:

Teknologi budidaya tanaman kopi yang meliputi pemilihan bibit kopi unggul, pemeliharaan tanaman kopi, pemangkasan tanaman kopi, pemupukan berimbang, penanganan hama penyakit tanaman kopi.
Teknologi pengolahan kopi yang meliputi seluruh kegiatan pasca panen hingga packing
Pembentukan jaringan pemasaran

 

Jenis-Jenis Kopi

 

Sejarah Kopi

Ada beberapa spesies kopi yang sudah dikenal dan beredar di pasaran, yaitu kopi arabika, kopi robusta, kopi liberika, dan kopi ekselsa. Dari beberapa varietas tersebut, kopi arabika menduduki peringkat pertama yang menguasai pasar dunia, kurang lebih 70% dari konsumsi kopi dunia. Kemudian disusul oleh kopi robusta yang mencapai 26% dari tingkat konsumsi kopi dunia.

Kopi arabika merupakan spesies kopi yang berasal dari daerah Afrika, yaitu tepatnya di pegunungan Etiopia yang kemudian kopi tersebut dikembangkan di daerah Yaman. Melalui pedagang Arab, kopi arabika disebarkan ke beberapa negara. Masyarakat di Arab merasakan bahwa minuman yang yang berasal dari biji kopi tersebut dapat menambah energi, yang kemudian minuman ini mereka sebut sebagai qahwa yang berarti pencegah rasa ngantuk. Oleh karena itu, kopi sering menjadi minuman para sultan sebagai pencegah rasa ngantuk. Kata qahwa (qahwain) merupakan kata yang berasal dari bahasa Turki, yaitu kahven. Beberapa negara memberikan istilah yang berbeda-beda untuk menyebut kopi. Di Jerman kopi disebut dengan istilah kaffe, di Perancis disebut dengan cafe, di Inggris disebut dengan coffe, di Belanda disebut dengan koffie, yang kemudian di Indonesia mengadopsi istilah Belanda tersebut menjadi kopi. Pada abad ke 16, kopi arabika mulai diperkenalkan di Indonesia oleh Belanda yang membuka perkebunan tanaman komersial, salah satunya adalah kopi yang didatangkan dari Yaman.

 

Morfologi Kopi

Dilihat dari fisik pertumbuhannya, spesies kopi memiliki ciri yang berbeda-beda. Spesies kopi arabika karakter pertumbuhan tanaman yang rimbun dan membentuk pohon perdu kecil. Adapun tanaman kopi ekselsa memiliki pertumbuhan pohon yang besar dan kuat. Secara umum, tanaman kopi memiliki dua tipe pertumbuhan cabang, yaitu ortotrop dan plagiotrop. Tipe ortotrop merupakan pertumbuhan cabang ke arah atas atau vertikal, sedangka tipe plagiotrop merupakan pertumbuhan cabang ke arah samping atau horisontal. Kopi arabika memiliki percabangan yang lebih lentur dan berdaun lebih tipis jika dibandingkan dengan spesies lain yang memiliki percabangan kuat dan berdaun lebih tebal dan lebar.

Daun tanaman kopi berbentuk lonjong, tulang daun berbentuk menyirip dan nampak tegas, berwarna hijau gelap dan mengkilap dengan daun muda berwana hijau lebih muda. Daun tumbuh berpasangan dan berlawanan arah.

Bunga tumbuh di ketiak daun, berwarna putih, dan memiliki aroma yang wangi. Secara umum tanaman kopi akan berbuah setelah berumur tiga tahun dari saat berkecambah. Buah kopi tersusun atas kulit buah (epicarp), daging buah (mesocarp), dan kulit tanduk (endocarp). Biji kopi mempunyai alur pada bagian datarnya, berada dalam buah kopi dan terbungkus oleh kulit tanduk. Setiap buah memiliki dua biji kopi.

Tanaman kopi memiliki perakaran yang tidak begitu dalam, bahkan 90% perakarannya berada pada lapisan tanah atas atau top soil, kurang lebih berada pada lapisan di atas 30 cm.

 

Taksonomi Kopi

Tanaman kopi termasuk dalam genus Coffea dengan famili Rubiaceae. Genus Coffea mencakup hampir 70 spesies, tetapi hanya ada dua spesies yang ditanam dalam skala luas di seluruh dunia, yaitu kopi arabika (Coffea arabica) dan kopi robusta (Coffea canephora var. robusta). Sementara itu, sekitar 2% dari total produksi dunia dari dua spesies kopi lainnya, yaitu kopi liberika (Coffea liberica) dan kopi ekselsa (Coffea excelsa) yang ditanam dalam skala terbatas, terutama di Afrika Barat dan Asia.

  • Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
  • Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpennbuluh)
  • Super Divisi: Spermatophyta (Tumbuhan penghasil biji)
  • Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
  • Kelas: Magnoliopsida (Tumbuhan berkeping dua/dikotil)
  • Sub Kelas: Asteridae
  • Ordo: Rubiales
  • Famili: Rubiaceae (suku kopi-kopian)
  • Genus: Coffea
  • Spesies: Coffea sp. [Coffea arabica L. (kopi arabika), Coffea canephora var. robusta (kopi robusta), Coffea liberica (kopi liberika), Coffea excelsa (kopi excelsa)]

 

Jenis-jenis Kopi

Ada empat jenis kopi yang dikenal, yaitu kopi arabika, kopi robusta, kopi liberika, dan kopi ekselsa. Dari keempat jenis kopi tersebut, kopi arabika dan kopi robusta paling banyak dikenal dan memasok kurang lebih 96% pasokan kapi dunia. Hal tersebut disebabkan kopi arabika dan kopi robusta yang memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan kopi leberika dan ekselsa. Keunggulan kopi arabaika adalah kualitas cita rasa yang tinggi dan kandungan kafein yang rendah dibandingkan dengan kopi robusta, sehingga hara kopi arabika lebih mahal. Tetapi area pertanaman kopi arabika terbatas pada ketinggian di atas 1.000 mdpl karena kopi jenis ini sangat rentan terserang penyakit karat daun kopi. Sedangkan kopi robusta memiliki keunggulan lebih tahan terhadap penyakit tersebut, sehingga luas pertanaman kopi jenis ini di Indonesia jauh lebih besar. Kopi liberika dan kopi ekselsa kurang memiliki nilai ekonomis dan komersial karena kualitas biji kopinya yang terlalu bervariasi dan cita rasa yang kurang disukai. Akan tetapi jenis kopi tersebut memiliki ketahanan yang cukup baik terhadap kondisi yang kurang mendukung untuk budidaya kopi.

 

Perkembangan Kopi di Indonesia

Kopi merupakan salah satu komoditas unggulan ekspor Indonesia. Penanaman kopi di Indonesia dimulai pada tahun 1696 yang pada waktu itu dikembangkan jenis kopi arabika oleh pemerintah Hindia Belanda. Akan tetapi penanaman kopi tersebut belum berhasil, sehingga pada tahun 1699 pemerintah Hindia Belanda kembali mendatangkan jenis kopi arabika. Pada periode ini kopi arabika berkembang cukup baik terutama di wilayah pulau Jawa, sehingga kopi ini lebih dikenal dengan istilah kopi jawa atau java coffe. Kopi jawa memiliki kualitas buah biji kopi yang sangat baik dan menjadi komoditas ekspor unggulan semejak lebih dari 100 tahun yang lampau.

Berkembangnya areal pertanaman kopi juga diikuti dengan merebaknya infeksi cendawan Hemileia vastatrix B et Br. yang menyebabkan penyakit karat daun kopi. Serangan cendawan Hemileia vastatrix B et Br. ini menyebabkan kerusakan pada daun dan pada serangan parah dapat mematikan tanaman. Pada tahun 1878 penyakit tersebut menyerang parah areal pertanaman kopi di Indonesia dan mengakibatkan kerugian yang sangat besar. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengendalikan cendawan Hemileia vastatrix B et Br. namun tidak menunjukkan hasil yang memuaskan. Sehingga pada tahun 1900 pemerintah Hindia Belanda mendatangkan kopi robusta untuk menggantikan kopi arabika yang rentan dengan karat daun. Semenjak saat itu terjadi perubahan orientasi penanaman dari kopi arabika ke kopi robusta. Dan hingga saat ini kopi robusta mendominasi pertanaman kopi di Indonesia.

Faktor lain yang mendorong masuknya kopi robusta ke Indonesia adalah pembelian benih robusta oleh perusahaan perkebunan “Cultuur Mij. Soember Agoeng” tahun 1900 dari I’Horticule Coloniale yang berkedudukan di Brussel. Benih-benih untuk menghasilkan bibit tersebut didatangkan dari Kongo Belgia (sekarang Zaire) yang terletak di Afrika Barat. Pada tanggal 10 September 1900 bibit-bibit kopi robusta diterima di Kebun Soember Agoeng. Perusahaan perkebunan tersebut berkantor di kota s’Gravenhage di Belanda dan mengelola perkebunan Soember Agoeng, Wringin Anom, dan Kali Bakar yang berlokasi di daerah Dampit, sekitar 40 km arah tenggara dari kota Malang.

Upaya memasukkan kopi robusta ke Indonesia juga dilakukan oleh gabungan pengusaha perkebunan di wilayah Kediri (“Kedirische Landbouw Vereniging”) pada tahun 1901. Selain itu, Pemerintah Hindia Belanda pada tahun tersebut juga memasukkan kopi robusta ke Kebun Percobaan milik Pemerintah Hindia Belanda (Governement Proeftuin) di Bangelan dekat Malang untuk keperluan penelitian.

 

Perdagangan Kopi

Seperti komoditas pertanian lain, rantai perdagangan kopi juga sangat bervariasi. Pada dasarnya rantai perdagangan komoditas ini dipengaruhi oleh jangkauan pasar dan sarana prasarana wilayah, misalnya jalur transportasi, sarana telekomunikasi, dan lain-lain. Jika areal produksi kopi berada tidak jauh dengan pasar, maka petani atau pekebun kopi dapat langsung menjual hasil produksinya ke pasar. Atau jika areal produksi kopi berada pada jarak yang agak jauh dari pasar dan sarana transportasi ke pasar cukup mendukung, maka petani atau pekebun kopi juga bisa langsung mejual hasil produksinya ke pasar. Atau jika areal produksi kopi berada pada jarak yang lebih jauh lagi dari pasar dan sarana transportasi maupun telekomunikasi cukup mendukung, maka petani atau pekebun kopi bisa menjual langsung secara kolektif atau bersama-sama petani kopi lain ke pasar. Namun kondisi serupa juga memungkinkan untuk muncul satu mata rantai perdagangan baru, yaitu pedagang pengumpul. Pedagang pengumpul akan mengumpulkan hasil produksi petani kopi dalam satu wilayah tertentu untuk dibawa ke pasar, atau pedagang pengepul, atau pedagang besar, atau langsung ke eksportir. Tentu saja hal ini sangat dipengaruhi oleh jaringan bisnis yang dibentuk oleh pedagang di tiap-tiap lini. Bisa saja seorang eksportir mengadakan kemitraan dengan petani atau pekebun kopi dan bisa langsung mengekspor hasil produksi petani setelah melalui tahapan control kualitas biji kopi.

Kopi merupakan salah satu komoditas ekspor unggulan. Disamping memiliki nilai ekonomis dan komersial yang tinggi, produksi kopi secara nasional juga cukup tinggi. Hanya 40% produksi kopi nasional yang dikonsumsi dalam negeri dan 60% dari total produksi kopi nasional masuk sebagai komoditas ekspor. Beberapa negara tujuan utama ekspor kopi Indonesia adalah Amerika Serikat, Jerman, dan Jepang. Konsekuensi dari bersarnya prosentase produksi kopi Indonesia yang diekspor adalah ketergantungan harga dengan kondisi pasar kopi dunia. Akan tetapi, 99% ekspor kopi Indonesia masih dalam bentuk biji kopi, sedangkan sisanya, sebesar 1%, diekspor dalam bentuk olahan (kopi bubuk). Hal ini tentu saja membutuhkan perhatian pemerintah, agar ekspor produk olahan kopi Indonesia bisa meningkat, sehingga akan memberi nilai tambah, baik dari segi finansial maupun sosial. Industri pengolahan kopi dalam skala besar tentu saja akan menambah lapangan kerja dan lapangan usaha di sektor lain.

Selain itu, peluang lebih besar lagi yang perlu mendapat perhatian semua pihak adalah kopi spesialti (specialty coffe) yang merupakan produk kopi organik. Produk kopi organik adalah kopi yang dihasilkan dari petani atau pekebun kopi yang cara budidayanya mengacu pada sistem pertanian berkelanjutan. Dengan kata lain, kopi spesialti merupakan kopi yang dihasilkan dari budidaya kopi secara organik, yaitu budiaya kopi yang tidak menggunakan input bahan kimia. Sehingga pengendalian dan penanganan organisme pengganggu tanaman juga harus mengutamakan prinsip pengendalian secara terpadu. Sebuah peluang agribisnis yang cukup besar, mengingat kopi spesialti dari Indonesia deperdagangkan dengan harga premium yang cukup tingi.

Categories
Perkebunan

Virus Pada Tanaman

Virus bersifat parasit obligat, yaitu hanya dapat hidup pada inang yang hidup. Virus tidak menyerap cairan atau nutrisi tanaman. Akan tetapi virus menyerang dengan cara yang lebih ganas, yaitu memasuki sel inang dan memperbanyak diri di dalamnya. Jika inangnya mati, maka virus tersebut meninggalkan sel inangnya tersebut. Pemberantasan virus nyaris tidak mungkin dilakukan karena virus sangat mudah bermutasi. Pengendalian virus hanya dilakukan terhadap serangga vektor penularannya.

Virus Pada Tanaman

 

GEJALA UMUM PENYAKIT TANAMAN OLEH VIRUS

Secara umum tanaman yang terinfeksi oleh virus menunjukkan beberapa gejala yang biasanya terdapat daun, buah, batang, cabang, maupun akar. Gejala tersebut ditunjukkan dengan ukuran yang mengecil, perubahan bentuk atau bagian tanaman, perubahan warna, kematian jaringan tanaman (misalnya bercak bercincin), dan tanaman mengalami hambatan pertumbuhan.

 

PENYEBAB DAN CARA HIDUP VIRUS

Jenis virus yang menyerang tanaman sangat banyak, beberapa diantaranya adalah geminivirus, TMV, CMV, ChiVMV. Ketika tanaman pokok yang dibudidayakan tidak ada di lahan, virus dapat bertahan hidup: pada bahan biakan tanaman, vektor (serangga penular), gulma. Khusus TMV masih hidup pada daun tembakau yang sudah kering atau jadi rokok.

 

ASAL / SUMBER SERANGAN

Sumber serangan virus sangat banyak dan beragam. Bahan biakan (benih) juga dapat menjadi sumber serangan virus, terutama untuk TMV dan CMV. Selain itu, tanaman sakit di lapang, baik tanaman pokok yang dibudidayakan, tanaman budidaya lain selain tanaman pokok, maupun gulma. Bahkan ada gulma yang kadang-kadang tidak bergejala tetapi sudah tertular. Tetapi yang sangat membahayakan adalah serangan serangga penular (vektor) virus. Apalagi saat musim dalam kondisi yang optimal untuk perkembangan serangga penular tersebut. Manusia juga bisa menjadi perantara penularan virus, terutama untuk tanaman budidaya melalui proses pelukaan tanaman saat sedang melakukan perawatan.

 

KARAKTERISTIK PENYEBAB SERANGAN

Virus selalu berkembang dari waktu ke waktu. Pada umumnya pola sebaran di lapangan (lahan) tidak teratur. Disamping itu, serangan virus juga diikuti atau bersamaan dengan serangan serangga penyebabnya atau pembawanya (vektor). Penyakit virus biasanya ditemukan pada tanaman tertentu /kelompok tanaman tertentu.

 

CARA PENULARAN VIRUS

Infeksi virus menular dari satu tanaman ke tanaman lain melalui aktivitas serangga penular (vektor), antara lain kutu daun, kutu kebul, dan Thrips. Pelukaan tanaman dalam proses budidiaya tertutama selama proses perlakuan fisik terhadap tanaman, seperti pengikatan, perempelan, maupun pemotongan. Penularan melalui pelukaan tanaman juga bisa terjadi karena adanya gesekan antara tanaman yang terserang virus dengan tanaman sehat.

 

FAKTOR LINGKUNGAN YANG MEMPENGARUHI SERANGAN VIRUS

Penyakit yang disebabkan oleh virus banyak terjadi pada musim kemarau atau pertanaman di musim hujan tetapi pembibitan dilakukan pada musim kemarau, karena populasi vektor berpeluang berkembang dengan baik dan suhunya sesuai bagi perkembangan virus. Untuk virus yang ditularkan oleh kutu kebul, populasi serangga dewasa yang tidak terlalu tinggi sudah cukup untuk menularkan, karena sangat aktif geraknya.

 

 

VIRUS MOSAIK KETIMUN (Cucumber Mosaic Virus/CMV)

  • Memiliki inang yang luas termasuk gulma
  • Jarang menyerang tanaman yang masih muda
  • Ditularkan oleh kutu daun
  • Mudah ditularkan oleh manusia melalui pelukaan tanaman
  • Terbawa benih

 

VIRUS MOSAIK TEMBAKAU (TOBACCO MOSAIC VIRUS/TMV)

  • Inang utama dari famili Solanaceae (tembakau, terung, tomat, cabai, kentang)
  • Sangat mudah tertular lewat pelukaan
  • Terbawa di permukaan benih
  • Bertahan pada sisa tanaman yang berada di lahan
  • Bahkan pada rokok yang daunnya terinfeksi
  • Tidak ditularkan oleh serangga

 

CHILI VEIN MOTTLE VIRUS (ChiVMV)

Ditularkan oleh kutu daun
Jika populasi kutu daun sangat tinggi akan membentuk sayap sehingga mudah diterbangkan oleh angin

 

POTATO VIRUS Y (PVY)

Tanaman terserang : cabe, kentang, tomat, dan tembakau
Ditularkan oleh kutu daun dan bahan biakan vegetatif
Tidak ditularkan benih

 

TOMATO SPOTTED WILT RINGSPOT VIRUS (VIRUS BERCAK BERCINCIN)

  • Jenis tanaman inang yang terserang sangat banyak
  • Ditularkan oleh Thrips

 

GEMINI VIRUS (VIRUS KUNING)

  • Tanaman inang : cabai, tomat, tembakau, gulma
  • Ditularkan oleh kutu kebul (Bemisia tabaci). Jumlah kutu yang sedikit sudah cukup untuk menyebarkan karena serangga dewasa aktif bergerak
  • Tidak ditularkan benih

 

STRATEGI PENGENDALIAN VIRUS

Menghindari adanya kontak virus dengan tanaman pada saat usia dini: benih sehat, perlindungan bibit.
Menghindari kontak dengan vektor: Tanaman penghalang, kelambu untuk pembibitan, metode strip farming.

Mengurangi populasi vektor penular virus dengan memasang perangkap likat kuning maupun aplikasi pestisida.

Pengamatan rutin dan memusnahkan tanaman yang terserang (mengorbankan beberapa tanaman untuk menyelamatkan yang lebih besar). JANGAN TERLALU SAYANG DENGAN TANAMAN YANG SUDAH SAKIT.

Perlakuan benih dengan cara merendam 2 g benih dalam 10 ml trisodium fosfat (Na3PO4.12 H2O) 10 % (10 gram bahan dalam 100 ml air) selama 30 menit. Setelah itu pindahkan kembali benih yang sudah diperlakukan ke larutan yang sama, dengan membuat larutan yang baru, selama 2 jam. Bila proses tersebut telah selesai, bilas benih dengan air mengalir selama 45 menit.

Pemasangan kelambu di persemaian untuk menghindari kontak dengan serangga vektor penular virus.
Penerapan sistem strip planting atau tanaman perangkap untuk mengurangi serangan serangga vektor penular virus di areal pertanaman.

Jika masih ada tanaman sakit di lapang dan belum sempat dimusnahkan, hindari melakukan perompesan (wiwilan) dari tanaman sakit.

Secara rutin membersihkan gulma selama di pertanaman. Beberapa jenis gulma yang berpotensi sebagai inang virus adalah Ageratum (Sunda: babadotan, Jawa: wedusan), Physalis (Jawa: ceplukan, sunda: cecenet) , Mimosa (putri malu, sunda: Alimusa) .

Penggunaan mulsa plastik hitam perak dapat untuk mengurangi tingkat serangan serangga vektor.

Memperkuat pertumbuhan tanaman agar mampu mengkompensasi akibat serangan virus yaitu dengan menerapkan pemupukan dan pengairan yang tepat dan cukup .
Penggunaan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) untuk membuat tanaman lebih bugar dan menginduksi ketahanan .

 

MENENTUKAN PERMASALAHAN UNTUK MENGENDALIKAN SERANGAN VIRUS

Identifikasi karakter tanaman (spesies atau varietas). Misal, jenis tanaman tertentu yang tampak tidak normal, bukan karena sakit, tetapi karena karakternya.

Periksa individu tanaman abnormal secara keseluruhan dan kelompok tanaman di sekitarnya. Misal, jika daun tanaman menguning karena kerusakan akar, maka permasalahan sebenarnya adalah akar yang rusak bukan daun yang menguning.

Categories
Perikanan

Budidaya Ikan Lele Pembenihan Secara Tradisional

Budidaya ikan lele pembenihan merupakan kegiatan awal dalam usaha ternak lele. Tanpa kegiatan pembenihan, maka kegiatan lain seperti, pendederan dan pembesaran tidak mungkin terlaksana. Kegiatan pembenihan ikan lele yang akan diuraikan disini merupakan kegiatan yang biasa dilakukan oleh para pelaku usaha pembenihan baik secara semi-intensif maupun intensif. Secara garis besar, kegiatan pembenihan meliputi pemeliharaan induk, pemilihan induk ikan lele siap pijah, pemijahan, dan perawatan larva ikan lele atau benih.

Kegiatan pembenihan ikan lele saat ini telah berkembang pesat, terutama di pulau Jawa. Kebanyakan kegiatan pembenihan ikan lele oleh petani masih dilakukan dengan peralatan dan cara yang sederhana. Biasanya hanya memanfaatkan bahan-bahan yang mudah didapat dengan harga yang terjangkau. Disamping itu, tenaga kerja yang digunakan cukup dengan memanfaatkan tenaga anggota keluarga petani yang bersangkutan.

Budidaya ikan lele seperti kebiasaan petani ini berkembang terutama di daerah dataran rendah sepanjang pantai utara Jawa (pantura), dari Bekasi, Indramayu, hingga sekitar Cirebon.

Cara atau kebiasaan yang dilakukan petani ini tentu memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya adalah dapat dilakukan secara sederhana di belakang rumah dengan biaya yang terjangkau. Sementara itu, kelemahannya adalah produk yang dihasilkan belum sesuai dengan yang diharapkan, karena teknologi yang mereka terapkan belum intensif. Kadang-kadang keuntungan yang diperoleh sangat kecil, bahkan tidak jarang mereka mengalami kerugian.

Budidaya Ikan Lele Pembenihan Secara Tradisional

Karakteristik budidaya ikan lele pembenihan secara tradisional yang dilakukan petani tersebut sebagai berikut.

A. Kolam Pemeliharaan Induk – Budidaya Ikan Lele Pembenihan Tradisional

Kolam yang digunakan untuk pemeliharaan induk ikan lele tidak disediakan secara khusus, tetapi hanya memanfaatkan kolam-kolam yang ada di belakang rumah atau kolam comberan tempat penampungan air limbah rumah tangga. Luas kolam yang digunakan disesuaikan dengan luas lahan. Biasanya, tidak lebih dari 6 m². Jumlah kolam induk sebanyak dua buah yang digunakan untuk memisahkan induk ikan lele betina dan induk ikan lele jantan.

Sistem pengairan pada kolam induk hanya terdiri dari saluran pemasukan dan saluran pembuangan. Air yang masuk ke kolam induk berasal dari air pembuangan rumah tangga, seperti dari kamar mandi, bekas cucian alatalat dapur, atau sewaktu-waktu memanfaatkan air hujan. Induk yang dipelihara tidak terlalu banyak, hanya 1-2 kg/m² luas kolam. Pakan yang diberikan untuk induk umumnya hanya sisa-sisa dapur, atau limbah peternakan (kotoran ayam) yang dibakar terlebih dahulu. Ada pula petani yang memanfaatkan keong mas yang menjadi hama tanaman padi dan daging bekicot yang diberikan setelah direbus atau dicincang terlebih dahulu.

Induk yang akan dipijahkan telah memenuhi persyaratan untuk dipijahkan. Kriterianya adalah sudah berumur minimal 1 tahun. Baik induk ikan lele betina maupun induk ikan lele jantan yang digunakan tersebut, kondisinya telah matang kelamin.

 

B. Pemijahan – Budidaya Ikan Lele Pembenihan Tradisional

Pembuatan Kolam Pemijahan – Budidaya Ikan Lele Pembenihan Tradisional
Pemijahan ikan lele bisa dilakukan di kolam tembok yang disediakan secara khusus untuk pemijahan. Meskipun demikian, cara yang lebih murah adalah memanfaatkan plastik terpal yang biasa digunakan untuk tenda. Plastik terpal tersebut dibentuk menyerupai bak sehingga dapat menampung air. Caranva dengan menyusun sejumlah bata atau batako di sekeliling pinggiran plastik menyerupai tanggul. Ukuran kolam pemijahan, baik yang dari tembok maupun plastik terpal tidak terlalu luas. Untuk 1 pasang induk ikan lele yang akan dipijahkan, luasnya 2 m².

Sebelum digunakan, kolam pemijahan harus dibersihkan dan dikeringkan terlebih dahulu beberapa hari. Maksudnya untuk mempercepat terjadinva proses pemijahan. Selanjutnya, bak diisi air jernih dan bersih setinggi 50-60 cm. Jika air yang digunakan tersebut kotor atau keruh, telur-telur ikan lele akan tertutup oleh lapisan lumpur sehingga tidak bisa menetas.

Untuk tempat penempelan telur, di dalam kolam pemijahan harus disediakan kakaban yang terbuat dari ijuk. Ukuran kakaban disesuaikan dengan ukuran kolam pemijahan. Namun, ukuran yang biasa digunakan panjangnva 75-100 cm dan lebarnya 30-40 cm. Sebagai patokan, untuk 1 pasang induk ikan lele dengan berat induk betina 500 gram, dibutuhkan kakaban sebanyak 4 buah. Jika kurang, dikhawatirkan telur yang dikeluarkan ketika pemijahan tidak tertampung seluruhnya atau menumpuk di kakaban, sehingga mudah membusuk dan tidak menetas.

Selanjutnya, kakaban yang telah disiapkan dipasang rata menutupi seluruh permukaan dasar kolam pemijahan. Cara pemasangannya adalah dengan menindihkan batu pada kakaban sebagai pemberat. Hal ini dimaksudkan agar telur-telur ikan lele hasil pemijahan dapat tertampung di kakaban dan seluruh bagiannva tetap dalam kondisi terendam air.

 

C. Pelepasan Induk – Budidaya Ikan Lele Pembenihan Tradisional

Setelah tempat pemijahan dipersiapkan, induk ikan lele jantan dan betina ditangkap dari kolam induk dengan menggunakan waring (jaring yang bermata kecil). Kemudian induk dilepaskan ke kolam pemijahan. Untuk satu kolam pemijahan, jumlah induk yang dipijahkan cukup 1 pasang. Jika induk yang dipijahkan lebih dari 1 pasang, dikhawatirkan selama proses pemijahan berlangsung akan terjadi perkelahian antara induk-induk tersebut, sehingga proses pemijahan tidak dapat berlangsung dengan sempurna. Di samping itu, kerugian lainnya adalah induk yang terlibat perkelahian akan mengalami luka-luka dan kondisinya lemah.

Satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah kondisi tubuh induk-induk ikan lele yang akan dipijahkan harus telah memenuhi persyaratan standar. Persyaratan tersebut di antaranva adalah harus matang kelamin dan berumur tidak kurang dari 1 tahun.
Ciri-ciri induk ikan lele betina yang telah siap untuk dipijahkan sebagai berikut.

  • Bagian perut tampak membesar ke arah anus dan jika diraba terasa lembek.
  • Lubang kelamin berwarna kemerahan dan tampak agak membesar.
  • Jika bagian perut secara perlahan diurut ke arah anus, akan keluar beberapa butir telur berwarna kekuning-kuningan dan ukurannya relatif besar.
  • Pergerakannya lamban dan jinak.

Ciri-ciri induk ikan lele jantan yang telah siap untuk dipijahkan sebagai berikut.

  • Alat kelamin tampak jelas dan lebih runcing.
  • Warna tubuh agak kemerah-merahan.
  • Tubuh ramping dan gerakannya lincah.

Induk ikan lele jantan dan betina yang telah matang kelamin dilepaskan ke dalam kolam pemijahan sekitar pukul 10.00 pagi. Agar induk ikan lele yang sedang dipijahkan tidak meloncat keluar, bagian atas kolam pemijahan ditutup menggunakan papan, triplek, atau bilah bambu. Induk akan berpijah pada malam hari menjelang pagi hari, biasanya antara pukul 24.00-04.00.

Selama proses pemijahan berlangsung, secara bersamaan induk ikan lele betina akan mengeluarkan telur dan induk ikan lele jantan mengeluarkan spermanya. Pembuahan akan terjadi di luar tubuh induk atau di dalam air. Salah satu kelemahan dari cara yang dilakukan petani ini antara lain ketidakpastian induk untuk memijah. Kadang-kadang dalam satu malam, induk langsung memijah, kadang-kadang pada malam kedua, bahkan sering kali ditemui induk tidak mau memijah sama sekali walaupun telah dibiarkan di tempat pemijahan selama beberapa malam. Ketidakpastian pemijahan tersebut disebabkan tingkat kematangan induk dan persiapan tempat pemijahan atau manipulasi lingkungan yang kurang sesuai dengan yang diharapkan oleh induk ikan lele.

 

D. Penetasan Telur Ikan Lele

Pembuatan Kolam Penetasan Telur – Budidaya Ikan Lele Pembenihan Tradisional
Pada hari yang bersamaan dengan persiapan pemijahan, kolam atau tempat penetasan telur ikan lele harus dipersiapkan pula. Karena setelah proses pemijahan selesai, telur-telur ikan lele yang menempel di kakaban harus segera dipindahkan. Jika terlambat dipindahkan, dikhawatirkan telur-telur tersebut akan dimakan kembali oleh induk-induknya.

Kolam penetasan yang biasa digunakan para petani adalah kolam yang terbuat dari plastik terpal seperti halnya kolam pemijahan. Ukuran kolam penetasan harus lebih besar daripada ukuran bak pemijahan, karena bak penetasan tersebut sekaligus digunakan sebagai tempat perawatan atau pemeliharaan benih ikan lele yang baru menetas (larva). Untuk seekor induk ikan lele betina yang beratnya 500 gram, luas kolam penetasan yang diperlukan sekitar 2 x 3 x 0,25 m.

Kolam penetasan dapat ditempatkan di samping atau di belakang rumah tempat tinggal, asalkan tidak langsung terkena sinar matahari dan hujan. Kolam yang berada di tempat yang langsung terkena sinar matahari atau air hujan, dapat mengakibatkan benih ikan lele mengalami kematian karena berpotensi terjadi perubahan suhu yang cukup drastis. Lahan yang akan digunakan untuk membuat kolam penetasan berupa tanah atau tembok bekas dengan permukaan rata.

Pembuatan kolam penetasan telur pada budidaya ikan lele pembenihan ini tidak terlalu sulit dilakukan dan biaya yang dibutuhkan pun tidak terlalu besar. Langkah-langkah pembuatan kolam penetasan sebagai berikut.

  • Membuat denah menyerupai kolam berbentuk empat persegi panjang dengan panjang dan lebar yang telah ditentukan.
  • Di setiap sudut denah ditancapkan tiang berupa kayu atau bambu dengan ketinggian 20-25 cm. Ketinggian ini disebabkan benih lele yang baru menetas belum memerlukan ketinggian air yang dalam.
  • Agar kerangka tempat penetasan kuat, kerangka harus dipaku ke setiap tiang.Langkah selanjutnya adalah memasang plastik terpal sebagai tempat penetasan telur. Plastik yang akan digunakan harus disesuaikan dengan lebar kerangka. Plastik dipasang di bagian dalam kerangka dengan cara mengikat tepi plastik ke kerangka bilah bambu. Setiap ikatan berjarak 25 cm. Hal ini dimaksudkan agar plastik dapat menahan kekuatan masa air atau tekanan air yang akan mendesak ke luar kolam.
  • Ketinggian air dalam kolam penetasan antara 15-20 cm.

 

E. Perawatan Telur – Budidaya Ikan Lele Pembenihan Tradisional

Setelah induk ikan lele selesai memijah, keesokan harinya telur-telur yang telah menempel di kakaban diangkat secara hati-hati dan dipindahkan ke kolam penetasan. Kakaban diletakkan dengan posisi rata dan semua permukaan kakaban harus terendam di dalam air. Hal ini dimaksudkan agar seluruh telur ikan lele juga ikut terendam. Jika ada telur yang tidak terendam air, dapat dipastikan telur tersebut tidak akan menetas.

Selama proses penetasan, harus dilakukan pengontrolan guna mencegah binatang liar, seperti kodok atau ular, masuk ke dalam kolam penetasan, yang dapat memangsa telur atau benih ikan lele yang sedang ditetaskan tersebut.

Telur-telur ikan lele akan menetas setelah 22-124 jam dari saat pemijahan. Selama proses penetasan berlangsung, diusahakan ada sedikit air yang mengalir. Dalam hal ini bisa digunakan selang kecil yang biasa digunakan untuk aerator akuarium. Pengaliran air ini bertujuan untuk menjaga kualitas air selama penetasan. Jika kualitas airnya jelek atau timbul bau yang tidak sedap, benih ikan lele yang baru menetas akan mati.

Ikan lele yang telah menetas dapat dilihat di permukaan dasar kolam penetasan. Benih-benih ikan lele akan berkumpul di dasar bak dengan warna hijau, hitam, atau kecokelat-cokelatan. Setelah telur-telur ikan lele menetas, kakaban harus diangkat secara hati-hati. Jika pengangkatan kakaban terlambat dilakukan, telur-telur yang tidak menetas akan membusuk dan menyebabkan kualitas air menurun, yang pada akhirnya membahayakan keselamatan benih yang baru menetas.

 

F. Pemeliharaan Larva – Budidaya Ikan Lele Pembenihan Tradisional

Kolam atau tempat penetasan telur sekaligus dijadikan sebagai tempat pemeliharaan larva. Agar kegiatan pembenihan dapat berhasil sesuai dengan yang diharapkan, benih-benih ikan lele yang baru menetas harus dirawat atau dipelihara dengan baik. Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan selama pemeliharaan larva, yakni kualitas air tetap terjaga dengan baik dan pakan harus tersedia dalam jumlah dan kualitas yang mencukupi. Karenanya penggantian atau penambahan air harus dilakukan setiap 2 hari sekali atau tergantung dari kebutuhan dengan melihat kualitas air yang ada di dalam kolam penetasan.

Benih ikan lele yang baru menetas sampai berumur 3 hari tidak perlu diberi pakan tambahan. Hal ini disebabkan cadangan makanan di dalam tubuhnya yang berupa kuning telur, masih tersedia. Pada hari keempat setelah menetas, benih harus diberi pakan tambahan yang ukurannya disesuaikan dengan bukaan mulutnya. Pakan tambahan yang paling cocok adalah pakan alami atau makanan hidup berupa plankton. Salah satunya adalah kutu air atau yang lebih dikenal dengan sebutan Daphnia sp. Di samping kutu air, pakan alami lain yang cocok untuk benih ikan lele adalah cacing sutera.

Pemberian pakan dilakukan sesuai dengan kebutuhan, yakni dua kali sehari pada pagi atau sore hari. Pakan tambahan berupa pakan alami lebih dianjurkan karena memiliki kelebihan jika dibandingkan dengan pakan buatan. Selain itu, pakan alami memiliki kandungan protein yang cukup tinggi dan mudah dicerna. Sebaiknya dihindari pemberian pakan yang berlebihan. Tujuannya agar air tidak tercemar.

Kutu air bisa diperoleh dari comberan atau tempat-tempat becek lainnya. Di samping itu, kutu air bisa diperoleh dengan cara dikultur atau dibudidayakan pada media tertentu. Kutu air yang ditangkap dari alam bebas menggunakan scop net (serok/tangguk) halus, sebelum diberikan, harus dibersihkan dari kotoran dengan cara mencucinya terlebih dahulu. Cacing sutera hanya bisa diperoleh dari saluran pembuangan air atau comberan. Saluran air tersebut biasanya banyak mengandung bahan-bahan organik berupa sisa-sisa buangan dari permukiman, sehingga cacing sutera bisa hidup dengan baik.

Benih lele dipelihara selama 2-3 minggu, dan selanjutnya didederkan di kolam tembok atau jaring apung (japung). Pemanenan benih dilakukan pada pagi atau sore hari saat suhu masih rendah. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya stres pada benih. Benih yang ditetaskan menggunakan kolam plastik, cara pemanenannya cukup praktis, yakni hanya dengan mengangkat beberapa sudut dari plastik tersebut. Dengan cara ini, secara perlahan-lahan air di dalam kolam pemeliharaan benih akan terbuang atau berkurang dan benih akan berkumpul di salah satu sudut. Di sudut pembuangan dipasang scop net yang berfungsi untuk menampung benih ikan lele yang terbawa aliran air. Selanjutnya scop net diangkat dengan hati-hati dan benih ikan lele dipindahkan ke tempat pendederan. Untuk setiap ekor induk yang beratnya sekitar 500 gram akan diperoleh benih ikan lele sebanyak 10.000-15.000 ekor.